Tampilkan postingan dengan label Islamic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamic. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Februari 2014

~~......TENTANG KUCING, TERNYATA SELAMA INI......~~

Posted by Unknown at 21.13 0 comments
TENTANG KUCING, TERNYATA SELAMA INI



Ternyata selama ini kita sudah di bodohi oleh mitos kedokteran
tentang kucing.. Dunia kesehatan mengatakan bahwa kucing itu
berbahaya, mulai dari bulunya hingga air liurnya..

Hal ini dibarengi dengan politik XXI untuk mengangkat citra Anjing..

Dan sehingga, orang yang menonton XXI akan berpandangan
bahwa Anjing itu binatang yang sehat dan bersahabat..

Namun, bagaimanakah fakta sebenarnya??

Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama
Mueeza. Suatu saat, di kala Nabi hendak mengambil jubahnya,
ditemuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai di atas
jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, Nabi
pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya.

Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk
sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, Nabi menyatakan kasih
sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu
sebanyak tiga kali.

Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya,
nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya. Salah
satu sifat Mueeza yang Nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika
mendengar adzan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti
mengikuti lantunan suara adzan.

Kepada para sahabatnya, Nabi berpesan untuk menyayangi kucing
peliharaan, layaknya menyayangi keluarga sendiri.

Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah
serius, dalam sebuah hadist shahih Al Bukhari, dikisahkan tentang
seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan
tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi
Muhammad SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini
adalah siksa neraka.

Dari Ibnu Umar ra bahwa rasulullah saw bersabda, “Seorang wanita dimasukkan kedalam neraka karena seekor kucing yang dia ikat dan tidak diberikan makan bahkan tidak diperkenankan makan binatang-binatang kecil yang ada di lantai,” (HR. Bukhari).

Nabi menekankan di beberapa hadis bahwa kucing itu tidak najis.

Bahkan diperbolehkan untuk berwudhu menggunakan air bekas
minum kucing karena dianggap suci.

Kenapa Rasulullah Saw yang buta baca-tulis, berani mengatakan
bahwa kucing suci, tidak najis? Lalu, bagaimana Nabi mengetahui
kalau pada badan kucing tidak terdapat najis?

Keistimewaan Kucing

Fakta Ilmiah 1 :
Pada kulit kucing terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur
bakteri. Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan
otot manusia. Permukaan lidah kucing tertutupi oleh berbagai
benjolan kecil yang runcing, benjolan ini bengkok mengerucut
seperti kikir atau gergaji. Bentuk ini sangat berguna untuk
membersihkan kulit. Ketika kucing minum, tidak ada setetes pun
cairan yang jatuh dari lidahnya.

Sedangkan lidah kucing sendiri merupakan alat pembersih yang paling canggih, permukaannya yang kasar bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu-bulu yang tersisa di badannya.

Fakta Ilmiah 2 :
Telah dilakukan berbagai penelitian terhadap kucing dan berbagai
perbedaan usia, perbedaan posisi kulit, punggung, bagian dalam
telapak kaki, pelindung mulut, dan ekor. Pada bagian-bagian tersebut dilakukan pengambilan sample dengan usapan.

Di samping itu,
dilakukan juga penanaman kuman pada bagian-bagian khusus.
Terus diambil juga cairan khusus yang ada pada dinding dalam
mulut dan lidahnya.

Hasil yang didapatkan adalah :

1. Hasil yang diambil dari kulit luar tenyata negatif berkuman,
meskipun dilakukan berulang-ulang.

2. Perbandingan yang ditanamkan kuman memberikan hasil negatif
sekitar 80% jika dilihat dari cairan yang diambil dari dinding mulut.

3. Cairan yang diambil dari permukaan lidah juga memberikan hasil
negatif berkuman.

4. Sekalinya ada kuman yang ditemukan saat proses penelitian,
kuman itu masuk kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman
biasa yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang
terbatas seperti, enterobacter, streptococcus, dan taphylococcus.
Jumlahnya kurang dan 50 ribu pertumbuhan.

5. Tidak ditemukan kelompok kuman yang beragam.

6. Berbagai sumber yang dapat dipercaya dan hasil penelitian
laboratorium menyimpulkan bahwa kucing tidak memiliki kuman
dan mikroba. Liurnya bersih dan membersihkan.

Komentar Para Dokter Peneliti

- Menurut Dr. George Maqshud, ketua laboratorium di Rumah Sakit
Hewan Baitharah, jarang sekali ditemukan adanya kuman pada lidah
kucing.

- Jika kuman itu ada, maka kucing itu akan sakit.
- Dr. Gen Gustafsirl menemukan bahwa kuman yang paling banyak
terdapat pada anjing,

- Manusia 1/4 anjing, kucing 1/2 manusia.

- Dokter hewan di rumah sakit hewan Damaskus, Sa’id Rafah
menegaskan bahwa kucing memiliki perangkat pembersih yang
bemama lysozyme.

- Kucing tidak suka air karena air merupakan tempat yang sangat
subur untuk pertumbuhan bakteri, terlebih pada genangan air
(lumpur, genangan hujan, dll)

- Kucing juga sangat menjaga kestabilan kehangatan tubuhnya. Ia
tidak banyak berjemur dan tidak dekat-dekat dengan air.

- Tujuannya agar bakteri tidak berpindah kepadanya. Inilah yang
menjadi faktor tidak adanya kuman pada tubuh kucing.

Fakta Ilmiah 3 :
Dan hasil penelitian kedokteran dan percobaan yang telah di lakukan di laboratorium hewan, ditemukan bahwa badan kucing bersih secara keseluruhan. Ia lebih bersih daripada manusia.
Fakta Ilmiah Tambahan :

Zaman dahulu kucing dipakai untuk terapi.

Dengkuran kucing yang 50Hz baik buat kesehatan selain itu mengelus kucing juga bisa menurunkan tingkat stress.
Sisa makanan kucing hukumnya suci.

Hadist Kabsyah binti Ka’b bin Malik menceritakan bahwa Abu
Qatadah, mertua Kabsyah, masuk ke rumahnya lalu ia menuangkan
air untuk wudhu. Pada saat itu, datang seekor kucing yang ingin
minum. Lantas ia menuangkan air di bejana sampai kucing itu
minum.

Kabsyah berkata, “Perhatikanlah. ” Abu Qatadah berkata, “Apakah
kamu heran?” Ia menjawab, “Ya.” Lalu, Abu Qatadah berkata bahwa Nabi SAW prnh bersabda, “Kucing itu tidak najis. Ia binatang yang suka berkeliling di rumah (binatang rumahan),” (H.R At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Diriwayatkan dan Ali bin Al-Hasan, dan Anas yang menceritakan
bahwa Nabi Saw pergi ke Bathhan suatu daerah di Madinah. Lalu,
beliau berkata, “Ya Anas, tuangkan air wudhu untukku ke dalam bejana.” Lalu, Anas menuangkan air. Ketika sudah selesai, Nabi menuju bejana. Namun, seekor kucing datang dan menjilati bejana. Melihat itu, Nabi berhenti sampai kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhu.

Nabi ditanya mengenai kejadian tersebut, beliau menjawab, “Ya
Anas, kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori
sesuatu, bahkan tidak ada najis.”

Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang
menerangkan bahwa budaknya memberikan Aisyah semangkuk
bubur. Namun, ketika ia sampai di rumah Aisyah, tenyata Aisyah
sedang shalat. Lalu, ia memberikan isyarat untuk menaruhnya.

Sayangnya, setelah Aisyah menyelesaikan shalat, ia lupa ada bubur.

Datanglah seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut.
Ketika ia melihat bubur tersebut dimakan kucing, Aisyah lalu
membersihkan bagian yang disentuh kucing, dan Aisyah
memakannya.

Rasulullah Saw bersabda, “Ia tidak najis. Ia binatang yang
berkeliling.” Aisyah pernah melihat Rasulullah Saw berwudhu dari
sisa jilatan kucing.” (H.R AlBaihaqi, Abd Al-Razzaq, dan Al-
Daruquthni).

Hadis ini diriwayatkan Malik, Ahmad, dan imam hadits yang lain.
Oleh karena itu, kucing adalah binatang, yang badan, keringat, bekas dari sisa makanannya adalah suci, Liurnya bersih dan
membersihkan, serta hidupnya lebih bersih daripada manusia.
Mungkin ini pula-lah mengapa Rasulullah SAW sangat sayang
kepada Muezza, Kucing kesayangannya. [islampos/berbagai sumber]

Subhanallah...

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=410051752467375&id=203846879754531&substory_index=0

Rabu, 07 Agustus 2013

ALLAHU AKBAR... ALLAHU AKBAR... ALLAHU AKBAR WALILLAHILHAM

Posted by Unknown at 22.45 0 comments

Taqaballalahu minna waminkum syiamana wa syiamakum.
Minnal aidzin walfa'idzin mohon maaf lahir dan batin..
Pesta Yang Tak Pernah Ada
ALLAHU AKBAR … ALLAHU AKBAR … ALLAHU AKBAR…

Nada dzikir yang sangat indah, menggetarkan langit, memecah bumi, memporak porandakan hati yang hening, dan membuat setiap sungai diujung mata jebol tak mampu lagi menampung setiap rentak rabana yang mengalir bersama darah disetiap napas yang ALLAH titipkan

Begitupun saya, yang tak kuasa membendung sungai kecil diujung mata saya, entah ini untuk merayakan kemenangan, entah saya menangisi bahwa idul fitri kali ini tak ada pesta dijiwa saya, selain menyusun langkah yang lebih pasti, mencapai ridho ILLAHI, mengisi setiap napas yang ALLAH titipkan untuk saya isi dengan kebaikan bukan dengan kesombongan, lumuran dosa yang sempat saya jadikan syurga yang saya cari [seperti zaman jahiliyah saya], kini di detik-detik menjelang perayaan Id yang fitri saya mulai mengerti dimana syurga itu berada, tak lupa saya ucapkan beribu-ribu terimakasih untuk seseorang yang telah membantu saya menemukan jatidiri saya, dan semoga amal ibadahnya di terima Allah Subhanahu Wa Ta'alla.. Aamiin ya Rabbal'alamiin.

Terbayang oleh saya mereka yang merayakan lebaran, di ICU Rumah sakit, di dalam rumah kardus yang dingin, di panti jompo tanpa anak dan suami…

Terbayang oleh saya saudara saya yang terusir dari keluarga karena kesalahan besarnya dan kini harus berada di keheningan untuk merayakan pesta yang takpernah ada...

Terbayang oleh saya airmata airmata penampung segala sabar dan ikhlas sebagai muara dari setiap cobaan…

Iya, saya disini yang akan merayakan kemenangan dengan jiwa yang melayang layang ditempat para sahabat, saudara saya yang kini harus berjuang sekedar untuk menyambung napas, disana ada takbir tapi tak ada pesta

Bismillaah... Ya ALLAH ya nurul Qolbu… Wahai yang maha melihat dan maha menerangi setiap jiwa, beri kami kekuatan, kami tetap bertakbir dengan tidak mengeluh sedikitpun karena kami percaya bahwa takdirmu meliputi takdir baik dan buruk, kami yang tiada, menjadi ada, dan akan tiada, Bukankah setiap nafas akan terhenti, nafas yang ENGKAU titipkan bertakbir, ada atau tanpa pesta kami tetap bertakbir,

ALLAHU AKBAR... ALLAHU AKBAR... ALLAHU AKBAR WALILLAHILHAM

Taqaballalahu minna waminkum syiamana wa syiamakum.
Minnal aidzin walfa'idzin mohon maaf lahir dan batin..

__Tangis Perpisahan para Pecinta Ramadhan__

Posted by Unknown at 16.17 0 comments



“Di malam terakhir Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Ramadhan, dan juga keistimewaannya.”

Waktu terus bergulir dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari hari ke hari, dari minggu ke minggu.... Rasanya baru kemarin kita begitu bersemangat mempersiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadhan, bulan tarbiyah, bulan latihan, bulan Quran, bulan maghfirah, bulan yang penuh berkah. Namun beberapa saat lagi, Ramadhan akan meninggalkan kita, padahal kita belum optimal melaksanakan qiyamul lail kita, belum optimal membaca Al-Quran serta belum optimal melaksanakan ibadah-ibadah lain, target-target yang kita pasang belum semuanya terlaksana. Dan kita tidak akan pernah tahu apakah kita masih dapat berjumpa dengan Ramadhan berikutnya.

Bagi para salafush shalih, setiap bulan Ramadhan pergi meninggalkan mereka, mereka selalu meneteskan air mata. Di lisan mereka terucap sebuah doa yang merupakan ungkapan kerinduan akan datangnya kembali bulan Ramadhan menghampiri diri mereka.

Orang-orang zaman dahulu, dengan berlalunya bulan Ramadhan, hati mereka mejadi sedih. Maka, tidak mengherankan bila pada malam-malam terakhir Ramadhan, pada masa Rasulullah SAW, Masjid Nabawi penuh sesak dengan orang-orang yang beri’tikaf. Dan di sela-sela i’tikafnya, mereka terkadang menangis terisak-isak, karena Ramadhan akan segera berlalu meninggalkan mereka.

Ada satu riwayat yang mengisahkan bahwa kesedihan ini tidak saja dialami manusia, tapi juga para malaikat dan makhluk-makhluk Allah lainnya.

Dari Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda, “Di malam terakhir Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Ramadhan, dan juga keistimewaannya. Ini merupakan musibah bagi umatku.”

Kemudian ada seorang sahabat bertanya, “Apakah musibah itu, ya Rasulullah?”

“Dalam bulan itu segala doa mustajab, sedekah makbul, segala kebajikan digandakan pahalanya, dan siksaan kubur terkecuali, maka apakah musibah yang terlebih besar apabila semuanya itu sudah berlalu?”
Ketika mereka memasuki detik-detik akhir penghujung Ramadhan, air mata mereka menetes. Hati mereka sedih.

Betapa tidak. Bulan yang penuh keberkahan dan keridhaan Allah itu akan segera pergi meninggalkan mereka. Bulan ketika orang-orang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah. Bulan yang Allah bukakan pintu-pintu surga, Dia tutup pintu-pintu neraka, dan Dia belenggu setan.

Bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Bulan ketika napas-napas orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi. Bulan ketika Allah setiap malamnya membebaskan ratusan ribu orang yang harus masuk neraka. Bulan ketika Allah menjadikannya sebagai penghubung antara orang-orang berdosa yang bertaubat dan Allah Ta’ala.

Mereka menangis karena merasa belum banyak mengambil manfaat dari Ramadhan. Mereka sedih karena khawatir amalan-amalan mereka tidak diterima dan dosa-dosa mereka belum dihapuskan. Mereka berduka karena boleh jadi mereka tidak akan bertemu lagi bulan Ramadhan yang akan datang.

Suatu hari, pada sebuah shalat ‘Idul Fithri, Umar bin Abdul Aziz berkata dalam khutbahnya, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah berpuasa karena Allah selama tiga puluh hari, berdiri melakukan shalat selama tiga puluh hari pula, dan pada hari ini kalian keluar seraya memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut.”

Salah seorang di antara jama’ah terlihat sedih.

Seseorang kemudian bertanya kepadanya, “Sesungguhnya hari ini adalah hari bersuka ria dan bersenang-senang. Kenapa engkau malah bermuram durja? Ada apa gerangan?”

“Ucapanmu benar, wahai sahabatku,” kata orang tesrebut. “Akan tetapi, aku hanyalah hamba yang diperintahkan oleh Rabb-ku untuk mempersembahkan suatu amalan kepada-Nya. Sungguh aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.”

Kekhawatiran serupa juga pernah menimpa para sahabat Rasulullah SAW. Di antaranya Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Diriwayatkan, di penghujung Ramadhan, Sayyidina Ali bergumam, “Aduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang diterima amalannya agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang ditolak amalannya agar aku dapat ‘melayatnya’.”

Ucapan Sayyidina Ali RA ini mirip dengan ucapan Abdullah bin Mas’ud RA, “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalannya untuk kita beri ucapan selamat, dan siapakah gerangan di antara kita yang ditolak amalannya untuk kita ‘layati’. Wahai orang yang diterima amalannya, berbahagialah engkau. Dan wahai orang yang ditolak amalannya, keperkasaan Allah adalah musibah bagimu.”

Imam Mu'alla bin Al-Fadhl RA berkata, "Dahulu para ulama senantiasa berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar diterima amal ibadah mereka (selama Ramadhan)."

Wajar saja, sebab, tidak ada yang bisa menjamin bahwa tahun depan kita akan kembali berjumpa dengan bulan yang penuh berkah, rahmat, dan maghfirah ini. Karenanya, beruntung dan berbahagialah kita saat berpisah dengan Ramadhan membawa segudang pahala untuk bekal di akhirat.

Jika kita merenungi kondisi salafush shalih dan meneliti bagaimana mereka menghabiskan waktu-waktu mereka di bulan Ramadhan, bagaimana mereka memakmurkannya dengan amal shalih, niscaya kita mengetahui jauhnya jarak di antara kita dan mereka.
Bagaimana dengan kita? Adakah kesedihan itu hadir di hati kita di kala Ramadhan meninggalkan kita? Atau malah sebaliknya, karena begitu bergembiranya menyambut kedatangan Hari Raya ‘Idul Fithri, sampai-sampai di sepuluh hari terakhir, yang seharunya kita semakin giat melaksanakan amalan-amalan ibadah, kita malah disibukkan dengan belanja, membeli baju Lebaran, disibukkan memasak, membuat kue, dan lain-lain.
Padahal di sisi lain, masih banyak orang di sekitar kita yang berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi untuk berbuka hari ini, bukan untuk besok, apalagi untuk pesta pora di hari Lebaran.
Tapi apakah salah bila kita menyongsong Hari Raya ‘Idul Fithri dengan kegembiraan? Tentu saja tidak. Bukankah Rasulullah SAW telah mengatakan, “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan sesungguhnya hari ini adalah hari raya kita.” (HR Nasa’i).


Rabu, 31 Juli 2013

~`* Meraih Malam Lailatul Qadar *`~

Posted by Unknown at 22.15 0 comments
Assalamu’alaiku m Warahmatullahi Wabarakatuh.


Malam Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh kemuliaan dan lebih baik dari seribu bulan. 
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ﺮﻬﺷ ﻒﻟﺃ ﻦﻣ ﺮﻴﺧ ﺭﺪﻘﻟﺍ ﺔﻠﻴﻟ “Lailatul qadr lebih baikdaripada 1000 bulan.” 
(QS. Al- Qadr (97) ayat 3)

Lalu bagaimana kita menjemput Malam Lailatul Qadar?, inilah beberapa cara yang bisa kita lakukan...

1. Meningkatkan ibadah, dengan shalat malam, berdzikir, shalat dluha, termasuk juga memperbanyak mengaji dan mentadabburi Al Qur’an.
 
“Barangsiapa yang shalat pada Malam Lailatul Qadar karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya. Dan barangsiapa yang berpuasa ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya”. (HR. Al-Bukhari no. 1768 dan Muslim no. 1268)

2. Memperbanyak doa
Malam Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh ampunan. Dari Aisyah radhiallahu anha, dia berkata:
"Wahai Rasulullah, apabila aku mengetahui Malam Lailatul
Qadar, maka apakah yang aku ucapkan padanya?” Beliau menjawab: “Berdoalah dengan: ALLAAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN KARIIMUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNII
(Artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Ampunan dan Maha Pemurah, Engkau senang memberikan ampunan, maka ampunilah aku).” (HR. At- Tirmizi no. 3435 dan dia berkata, “Ini adalah hadits hasan shahih.”)

3. Memperbanyak infaq dan sedekah
Sungguh begitu besar
keutamaan infaq dan sedekah, dan akan lebih berlipat ganda pahala bagi yang melaksanakannya pada 10 Ramadhan terakhir (untuk menjemput Malam Lailatul Qadar).
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

Aisyah
radhiallahu anha berkata,
“Rasulullah ber’itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan
Ramadhan, dan beliau bersabda, ‘Carilah malam Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.

Semoga kita semua dapat menjemput malam istimewa ini, dengan kejernihan hati dan kualitas ibadah yang kiat meningkat. Aamiin Ya Robbal Alamiin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jumat, 26 Juli 2013

..Hari Jumat adalah hari yang mulia..

Posted by Unknown at 16.13 0 comments

Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah Nabi

Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana seharusnya msenyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’ala. Berikut ini beberapa adab yang harus diperhatikan bagi setiap muslim yang ingin menghidupkan syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jumat.

1. Memperbanyak Sholawat Nabi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

2. Mandi Jumat

Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang balig berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim). Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi janabah biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi Jumat seperti mandi janabah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Menggunakan Minyak Wangi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid

Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)

5. Sholat Sunnah Ketika Menunggu Imam atau Khatib

Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)

6. Tidak Duduk dengan Memeluk Lutut Ketika Khatib Berkhotbah

“Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rasulullah melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat Jumat ketika imam sedang berkhotbah.” (Hasan. HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

7. Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat

Rasulullah bersabda yang artinya, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)

8. Membaca Surat Al Kahfi

Nabi bersabda yang artinya, “Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.” (HR. Imam Hakim dalam Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)

Demikianlah sekelumit etika yang seharusnya diperhatikan bagi setiap muslim yang hendak menghidupkan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di hari Jumat. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang senantiasa di atas sunnah Nabi-Nya dan selalu istiqomah di atas jalan-Nya.

Sumber : http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/adab-pada-hari-jumat-sesuai-sunnah-nabi.html

Pentingnya Malam Nuzul Al-Qu’ran 17 Ramadhan 1434 H

Posted by Unknown at 15.07 0 comments
Peringatan Malam Nuzulul Al Quran 17 Ramadhan 1434 H merupakan momentum penting khususnya umat Islam sedunia dalam memaknai pentingnya wahyu Al Quran yang turun pertama kalinya di bulan suci Ramadhan. Begitu yang tertulis dalam firman Allah SWT : surat Al-Qadr (1-5). Malam yang diyakini sebagai turunnya Al Quran melalui seorang Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW di gua Hira. Tempat yang dimanfaatkan oleh Nabi Muhammad mengkhusyukkan diri berdoa selama ini. Peristiwa bersejarah turunnya kitab Suci Al Quran telah dianggap dan dipercayai kebenarannya sebagai tuntunan hidup umat manusia. Kala itu Nabi Muhammad SAW berusia kurang lebih 40 tahun lebih setengah tahun dan 8 hari. Bisa dikatakan juga sekitar 13 tahun sebelum beliau memutuskan hijrah dari perjalanan kota Makkah sampai Madinah. Semua itu berlangsung persis 17 Ramadhan bersamaan tanggal 6-8-610 M.

Malam Nuzulul Al Quran 2013 17 Ramadhan 1434 H juga tidak terlepas dari pendapat kontroversial masa lalu.Seperti yang pernah dikisahkan ada diantara para sahabat Nabi yang berpendapat seputar turunnya Al Quran tersebut jatuh tanggal 23, 24 dan seterusnya.Namun balik lagi ditegaskan, bahwa memang tidak ada pernyataan resmi yang datang dari junjungan nabi Muhammad SAW mengenai kapan persis waktunya diturunkannya Al Quran tersebut. Sehingga semua perkataan dan pendapat yang sempat ditulis oleh ulama adalah murni hasil ijtihad dan hanya pendapat para sahabat Nabi Muhammad saja. Perkataan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyatakan ada sekitar 40 pendapat ulama mengenai Nuzul Qur’an turun.

Ada juga riwayat yang menceritakan bahwa Nabi Muhhammad SAW berkeinginan menyampaikan berita tentang kapan persisnya malam Nuzul Qur’an terjadi. Di tengah perjalanan beliau mendapati dua orang pengikutnya yang sedang bersitegang hebat, maka Nabi memutuskan tidak jadi menyampaikan hal gembira tersebut setelah melihat kejadian tersebut. Demikian halnya memberikan hikmah tersendiri, dengan tidak tersampaikan kabar berita itu oleh Nabi Muhammad, yakni mendorong para umatnya secara tidak langsung untuk senantiasa berikhtiar sungguh-sungguh mencari kapan tepatnya malam Nuzul Qur’an. Agar umat Islam terus bersemangat untuk mencari pahala dan anugerah mulianya malam tersebut. Sebaliknya timbul kekuatiran jika manusia telah mengetahui kepastian malam Nuzul Qur’an sejak dulu, kemungkinan malah menjadikan umat hanya tergantung pada hari itu saja untuk berdoa khusyuk kepada Allah, sementara pada kesempatan lainnya bisa meninggalkan kewajiban ibadahnya. Sikap ini begitu bertolak belakang dengan spirit rahmat bulan ramadhan Sebagai bulan yang melatih kekuatan,ketaatan serta keihlasan hati kita untuk beribadah selama satu bulan penuh.

Sekiranya ayat Al Quran manakah yang diturunkan pada malam hari kejadian itu adalah (QS. Al-Alaq: 1-5) : yaitu “bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah Menciptakan, Tuhan menciptakan manusia dari bentuk gumpalan darah. Ketahuilah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran sebuah kalam*, Dia mengajari kepada manusia apa yang seharusnya dilakukan ”. Secara tidak langsung berarti Allah akan mengajarkan umat manusia lewat media tulis dan baca. Sehingga Al Quran menjadi kitab hidayah pedoman ataupun petunjuk bagi seluruh alam raya. Jadi sekiranya terdapat penggambaran tentang hal-hal yang bertalian dengan sejarah, geografi, kedokteran, fisika dan lain sebagainya hanyalah berfungsi sebagai bukti dan penjelasan untuk mencapai kepada satu tujuan kemulian hidayah yang Allah maksud. Maka dari itu, terdapat beberapa syarat agar kita dapat menemukan hidayat yang dimaksud oleh Allah SWT dalam kandungan yang terdapat dalam nilai Al Quran itu sendiri.

Sejak saat itu Nabi Muhammad SAW resmi menjadi junjungan Rasul tercinta bagi umat manusia di muka bumi ini. Sehingga sepatutnya Malam Nuzul Al Quran 17 Ramadhan 1434 H ini bisa dimanfaatkan sebaik mungkin seluruh umat muslim dalam mengumandangkan kalam Illahi dengan memperbanyak baca ayat-ayat suci Al Quran. Begitu pentingnya arti malam Nuzul Al Quran 17 Ramadhan 1434 H dalam mempengaruhi ketaqwaan bersikap umat Islam menggapai makna Nuzul Qur’an. Semoga dengan lebih merujuk Al Qur’an sebagai panutan utama mendorong kualitas hidup menjadi lebih baik di masa mendatang.

Sejak saat itu Nabi Muhammad SAW resmi menjadi junjungan Rasul tercinta bagi umat manusia di muka bumi ini. Sehingga sepatutnya Malam Nuzul Al Quran 17 Ramadhan 1434 H ini bisa dimanfaatkan sebaik mungkin seluruh umat muslim dalam mengumandangkan kalam Illahi dengan memperbanyak baca ayat-ayat suci Al Quran. Begitu pentingnya arti malam Nuzul Al Quran 17 Ramadhan 1434 H dalam mempengaruhi ketaqwaan bersikap umat Islam menggapai makna Nuzul Qur’an. Semoga dengan lebih merujuk Al Qur’an sebagai panutan utama mendorong kualitas hidup menjadi lebih baik di masa mendatang.
Tampilkan postingan dengan label Islamic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamic. Tampilkan semua postingan
Post Icon

~~......TENTANG KUCING, TERNYATA SELAMA INI......~~

TENTANG KUCING, TERNYATA SELAMA INI



Ternyata selama ini kita sudah di bodohi oleh mitos kedokteran
tentang kucing.. Dunia kesehatan mengatakan bahwa kucing itu
berbahaya, mulai dari bulunya hingga air liurnya..

Hal ini dibarengi dengan politik XXI untuk mengangkat citra Anjing..

Dan sehingga, orang yang menonton XXI akan berpandangan
bahwa Anjing itu binatang yang sehat dan bersahabat..

Namun, bagaimanakah fakta sebenarnya??

Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama
Mueeza. Suatu saat, di kala Nabi hendak mengambil jubahnya,
ditemuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai di atas
jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, Nabi
pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya.

Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk
sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, Nabi menyatakan kasih
sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu
sebanyak tiga kali.

Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya,
nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya. Salah
satu sifat Mueeza yang Nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika
mendengar adzan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti
mengikuti lantunan suara adzan.

Kepada para sahabatnya, Nabi berpesan untuk menyayangi kucing
peliharaan, layaknya menyayangi keluarga sendiri.

Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah
serius, dalam sebuah hadist shahih Al Bukhari, dikisahkan tentang
seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan
tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi
Muhammad SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini
adalah siksa neraka.

Dari Ibnu Umar ra bahwa rasulullah saw bersabda, “Seorang wanita dimasukkan kedalam neraka karena seekor kucing yang dia ikat dan tidak diberikan makan bahkan tidak diperkenankan makan binatang-binatang kecil yang ada di lantai,” (HR. Bukhari).

Nabi menekankan di beberapa hadis bahwa kucing itu tidak najis.

Bahkan diperbolehkan untuk berwudhu menggunakan air bekas
minum kucing karena dianggap suci.

Kenapa Rasulullah Saw yang buta baca-tulis, berani mengatakan
bahwa kucing suci, tidak najis? Lalu, bagaimana Nabi mengetahui
kalau pada badan kucing tidak terdapat najis?

Keistimewaan Kucing

Fakta Ilmiah 1 :
Pada kulit kucing terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur
bakteri. Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan
otot manusia. Permukaan lidah kucing tertutupi oleh berbagai
benjolan kecil yang runcing, benjolan ini bengkok mengerucut
seperti kikir atau gergaji. Bentuk ini sangat berguna untuk
membersihkan kulit. Ketika kucing minum, tidak ada setetes pun
cairan yang jatuh dari lidahnya.

Sedangkan lidah kucing sendiri merupakan alat pembersih yang paling canggih, permukaannya yang kasar bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu-bulu yang tersisa di badannya.

Fakta Ilmiah 2 :
Telah dilakukan berbagai penelitian terhadap kucing dan berbagai
perbedaan usia, perbedaan posisi kulit, punggung, bagian dalam
telapak kaki, pelindung mulut, dan ekor. Pada bagian-bagian tersebut dilakukan pengambilan sample dengan usapan.

Di samping itu,
dilakukan juga penanaman kuman pada bagian-bagian khusus.
Terus diambil juga cairan khusus yang ada pada dinding dalam
mulut dan lidahnya.

Hasil yang didapatkan adalah :

1. Hasil yang diambil dari kulit luar tenyata negatif berkuman,
meskipun dilakukan berulang-ulang.

2. Perbandingan yang ditanamkan kuman memberikan hasil negatif
sekitar 80% jika dilihat dari cairan yang diambil dari dinding mulut.

3. Cairan yang diambil dari permukaan lidah juga memberikan hasil
negatif berkuman.

4. Sekalinya ada kuman yang ditemukan saat proses penelitian,
kuman itu masuk kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman
biasa yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang
terbatas seperti, enterobacter, streptococcus, dan taphylococcus.
Jumlahnya kurang dan 50 ribu pertumbuhan.

5. Tidak ditemukan kelompok kuman yang beragam.

6. Berbagai sumber yang dapat dipercaya dan hasil penelitian
laboratorium menyimpulkan bahwa kucing tidak memiliki kuman
dan mikroba. Liurnya bersih dan membersihkan.

Komentar Para Dokter Peneliti

- Menurut Dr. George Maqshud, ketua laboratorium di Rumah Sakit
Hewan Baitharah, jarang sekali ditemukan adanya kuman pada lidah
kucing.

- Jika kuman itu ada, maka kucing itu akan sakit.
- Dr. Gen Gustafsirl menemukan bahwa kuman yang paling banyak
terdapat pada anjing,

- Manusia 1/4 anjing, kucing 1/2 manusia.

- Dokter hewan di rumah sakit hewan Damaskus, Sa’id Rafah
menegaskan bahwa kucing memiliki perangkat pembersih yang
bemama lysozyme.

- Kucing tidak suka air karena air merupakan tempat yang sangat
subur untuk pertumbuhan bakteri, terlebih pada genangan air
(lumpur, genangan hujan, dll)

- Kucing juga sangat menjaga kestabilan kehangatan tubuhnya. Ia
tidak banyak berjemur dan tidak dekat-dekat dengan air.

- Tujuannya agar bakteri tidak berpindah kepadanya. Inilah yang
menjadi faktor tidak adanya kuman pada tubuh kucing.

Fakta Ilmiah 3 :
Dan hasil penelitian kedokteran dan percobaan yang telah di lakukan di laboratorium hewan, ditemukan bahwa badan kucing bersih secara keseluruhan. Ia lebih bersih daripada manusia.
Fakta Ilmiah Tambahan :

Zaman dahulu kucing dipakai untuk terapi.

Dengkuran kucing yang 50Hz baik buat kesehatan selain itu mengelus kucing juga bisa menurunkan tingkat stress.
Sisa makanan kucing hukumnya suci.

Hadist Kabsyah binti Ka’b bin Malik menceritakan bahwa Abu
Qatadah, mertua Kabsyah, masuk ke rumahnya lalu ia menuangkan
air untuk wudhu. Pada saat itu, datang seekor kucing yang ingin
minum. Lantas ia menuangkan air di bejana sampai kucing itu
minum.

Kabsyah berkata, “Perhatikanlah. ” Abu Qatadah berkata, “Apakah
kamu heran?” Ia menjawab, “Ya.” Lalu, Abu Qatadah berkata bahwa Nabi SAW prnh bersabda, “Kucing itu tidak najis. Ia binatang yang suka berkeliling di rumah (binatang rumahan),” (H.R At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Diriwayatkan dan Ali bin Al-Hasan, dan Anas yang menceritakan
bahwa Nabi Saw pergi ke Bathhan suatu daerah di Madinah. Lalu,
beliau berkata, “Ya Anas, tuangkan air wudhu untukku ke dalam bejana.” Lalu, Anas menuangkan air. Ketika sudah selesai, Nabi menuju bejana. Namun, seekor kucing datang dan menjilati bejana. Melihat itu, Nabi berhenti sampai kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhu.

Nabi ditanya mengenai kejadian tersebut, beliau menjawab, “Ya
Anas, kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori
sesuatu, bahkan tidak ada najis.”

Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang
menerangkan bahwa budaknya memberikan Aisyah semangkuk
bubur. Namun, ketika ia sampai di rumah Aisyah, tenyata Aisyah
sedang shalat. Lalu, ia memberikan isyarat untuk menaruhnya.

Sayangnya, setelah Aisyah menyelesaikan shalat, ia lupa ada bubur.

Datanglah seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut.
Ketika ia melihat bubur tersebut dimakan kucing, Aisyah lalu
membersihkan bagian yang disentuh kucing, dan Aisyah
memakannya.

Rasulullah Saw bersabda, “Ia tidak najis. Ia binatang yang
berkeliling.” Aisyah pernah melihat Rasulullah Saw berwudhu dari
sisa jilatan kucing.” (H.R AlBaihaqi, Abd Al-Razzaq, dan Al-
Daruquthni).

Hadis ini diriwayatkan Malik, Ahmad, dan imam hadits yang lain.
Oleh karena itu, kucing adalah binatang, yang badan, keringat, bekas dari sisa makanannya adalah suci, Liurnya bersih dan
membersihkan, serta hidupnya lebih bersih daripada manusia.
Mungkin ini pula-lah mengapa Rasulullah SAW sangat sayang
kepada Muezza, Kucing kesayangannya. [islampos/berbagai sumber]

Subhanallah...

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=410051752467375&id=203846879754531&substory_index=0

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

ALLAHU AKBAR... ALLAHU AKBAR... ALLAHU AKBAR WALILLAHILHAM


Taqaballalahu minna waminkum syiamana wa syiamakum.
Minnal aidzin walfa'idzin mohon maaf lahir dan batin..
Pesta Yang Tak Pernah Ada
ALLAHU AKBAR … ALLAHU AKBAR … ALLAHU AKBAR…

Nada dzikir yang sangat indah, menggetarkan langit, memecah bumi, memporak porandakan hati yang hening, dan membuat setiap sungai diujung mata jebol tak mampu lagi menampung setiap rentak rabana yang mengalir bersama darah disetiap napas yang ALLAH titipkan

Begitupun saya, yang tak kuasa membendung sungai kecil diujung mata saya, entah ini untuk merayakan kemenangan, entah saya menangisi bahwa idul fitri kali ini tak ada pesta dijiwa saya, selain menyusun langkah yang lebih pasti, mencapai ridho ILLAHI, mengisi setiap napas yang ALLAH titipkan untuk saya isi dengan kebaikan bukan dengan kesombongan, lumuran dosa yang sempat saya jadikan syurga yang saya cari [seperti zaman jahiliyah saya], kini di detik-detik menjelang perayaan Id yang fitri saya mulai mengerti dimana syurga itu berada, tak lupa saya ucapkan beribu-ribu terimakasih untuk seseorang yang telah membantu saya menemukan jatidiri saya, dan semoga amal ibadahnya di terima Allah Subhanahu Wa Ta'alla.. Aamiin ya Rabbal'alamiin.

Terbayang oleh saya mereka yang merayakan lebaran, di ICU Rumah sakit, di dalam rumah kardus yang dingin, di panti jompo tanpa anak dan suami…

Terbayang oleh saya saudara saya yang terusir dari keluarga karena kesalahan besarnya dan kini harus berada di keheningan untuk merayakan pesta yang takpernah ada...

Terbayang oleh saya airmata airmata penampung segala sabar dan ikhlas sebagai muara dari setiap cobaan…

Iya, saya disini yang akan merayakan kemenangan dengan jiwa yang melayang layang ditempat para sahabat, saudara saya yang kini harus berjuang sekedar untuk menyambung napas, disana ada takbir tapi tak ada pesta

Bismillaah... Ya ALLAH ya nurul Qolbu… Wahai yang maha melihat dan maha menerangi setiap jiwa, beri kami kekuatan, kami tetap bertakbir dengan tidak mengeluh sedikitpun karena kami percaya bahwa takdirmu meliputi takdir baik dan buruk, kami yang tiada, menjadi ada, dan akan tiada, Bukankah setiap nafas akan terhenti, nafas yang ENGKAU titipkan bertakbir, ada atau tanpa pesta kami tetap bertakbir,

ALLAHU AKBAR... ALLAHU AKBAR... ALLAHU AKBAR WALILLAHILHAM

Taqaballalahu minna waminkum syiamana wa syiamakum.
Minnal aidzin walfa'idzin mohon maaf lahir dan batin..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

__Tangis Perpisahan para Pecinta Ramadhan__




“Di malam terakhir Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Ramadhan, dan juga keistimewaannya.”

Waktu terus bergulir dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari hari ke hari, dari minggu ke minggu.... Rasanya baru kemarin kita begitu bersemangat mempersiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadhan, bulan tarbiyah, bulan latihan, bulan Quran, bulan maghfirah, bulan yang penuh berkah. Namun beberapa saat lagi, Ramadhan akan meninggalkan kita, padahal kita belum optimal melaksanakan qiyamul lail kita, belum optimal membaca Al-Quran serta belum optimal melaksanakan ibadah-ibadah lain, target-target yang kita pasang belum semuanya terlaksana. Dan kita tidak akan pernah tahu apakah kita masih dapat berjumpa dengan Ramadhan berikutnya.

Bagi para salafush shalih, setiap bulan Ramadhan pergi meninggalkan mereka, mereka selalu meneteskan air mata. Di lisan mereka terucap sebuah doa yang merupakan ungkapan kerinduan akan datangnya kembali bulan Ramadhan menghampiri diri mereka.

Orang-orang zaman dahulu, dengan berlalunya bulan Ramadhan, hati mereka mejadi sedih. Maka, tidak mengherankan bila pada malam-malam terakhir Ramadhan, pada masa Rasulullah SAW, Masjid Nabawi penuh sesak dengan orang-orang yang beri’tikaf. Dan di sela-sela i’tikafnya, mereka terkadang menangis terisak-isak, karena Ramadhan akan segera berlalu meninggalkan mereka.

Ada satu riwayat yang mengisahkan bahwa kesedihan ini tidak saja dialami manusia, tapi juga para malaikat dan makhluk-makhluk Allah lainnya.

Dari Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda, “Di malam terakhir Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Ramadhan, dan juga keistimewaannya. Ini merupakan musibah bagi umatku.”

Kemudian ada seorang sahabat bertanya, “Apakah musibah itu, ya Rasulullah?”

“Dalam bulan itu segala doa mustajab, sedekah makbul, segala kebajikan digandakan pahalanya, dan siksaan kubur terkecuali, maka apakah musibah yang terlebih besar apabila semuanya itu sudah berlalu?”
Ketika mereka memasuki detik-detik akhir penghujung Ramadhan, air mata mereka menetes. Hati mereka sedih.

Betapa tidak. Bulan yang penuh keberkahan dan keridhaan Allah itu akan segera pergi meninggalkan mereka. Bulan ketika orang-orang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah. Bulan yang Allah bukakan pintu-pintu surga, Dia tutup pintu-pintu neraka, dan Dia belenggu setan.

Bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Bulan ketika napas-napas orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi. Bulan ketika Allah setiap malamnya membebaskan ratusan ribu orang yang harus masuk neraka. Bulan ketika Allah menjadikannya sebagai penghubung antara orang-orang berdosa yang bertaubat dan Allah Ta’ala.

Mereka menangis karena merasa belum banyak mengambil manfaat dari Ramadhan. Mereka sedih karena khawatir amalan-amalan mereka tidak diterima dan dosa-dosa mereka belum dihapuskan. Mereka berduka karena boleh jadi mereka tidak akan bertemu lagi bulan Ramadhan yang akan datang.

Suatu hari, pada sebuah shalat ‘Idul Fithri, Umar bin Abdul Aziz berkata dalam khutbahnya, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah berpuasa karena Allah selama tiga puluh hari, berdiri melakukan shalat selama tiga puluh hari pula, dan pada hari ini kalian keluar seraya memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut.”

Salah seorang di antara jama’ah terlihat sedih.

Seseorang kemudian bertanya kepadanya, “Sesungguhnya hari ini adalah hari bersuka ria dan bersenang-senang. Kenapa engkau malah bermuram durja? Ada apa gerangan?”

“Ucapanmu benar, wahai sahabatku,” kata orang tesrebut. “Akan tetapi, aku hanyalah hamba yang diperintahkan oleh Rabb-ku untuk mempersembahkan suatu amalan kepada-Nya. Sungguh aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.”

Kekhawatiran serupa juga pernah menimpa para sahabat Rasulullah SAW. Di antaranya Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Diriwayatkan, di penghujung Ramadhan, Sayyidina Ali bergumam, “Aduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang diterima amalannya agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang ditolak amalannya agar aku dapat ‘melayatnya’.”

Ucapan Sayyidina Ali RA ini mirip dengan ucapan Abdullah bin Mas’ud RA, “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalannya untuk kita beri ucapan selamat, dan siapakah gerangan di antara kita yang ditolak amalannya untuk kita ‘layati’. Wahai orang yang diterima amalannya, berbahagialah engkau. Dan wahai orang yang ditolak amalannya, keperkasaan Allah adalah musibah bagimu.”

Imam Mu'alla bin Al-Fadhl RA berkata, "Dahulu para ulama senantiasa berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar diterima amal ibadah mereka (selama Ramadhan)."

Wajar saja, sebab, tidak ada yang bisa menjamin bahwa tahun depan kita akan kembali berjumpa dengan bulan yang penuh berkah, rahmat, dan maghfirah ini. Karenanya, beruntung dan berbahagialah kita saat berpisah dengan Ramadhan membawa segudang pahala untuk bekal di akhirat.

Jika kita merenungi kondisi salafush shalih dan meneliti bagaimana mereka menghabiskan waktu-waktu mereka di bulan Ramadhan, bagaimana mereka memakmurkannya dengan amal shalih, niscaya kita mengetahui jauhnya jarak di antara kita dan mereka.
Bagaimana dengan kita? Adakah kesedihan itu hadir di hati kita di kala Ramadhan meninggalkan kita? Atau malah sebaliknya, karena begitu bergembiranya menyambut kedatangan Hari Raya ‘Idul Fithri, sampai-sampai di sepuluh hari terakhir, yang seharunya kita semakin giat melaksanakan amalan-amalan ibadah, kita malah disibukkan dengan belanja, membeli baju Lebaran, disibukkan memasak, membuat kue, dan lain-lain.
Padahal di sisi lain, masih banyak orang di sekitar kita yang berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi untuk berbuka hari ini, bukan untuk besok, apalagi untuk pesta pora di hari Lebaran.
Tapi apakah salah bila kita menyongsong Hari Raya ‘Idul Fithri dengan kegembiraan? Tentu saja tidak. Bukankah Rasulullah SAW telah mengatakan, “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan sesungguhnya hari ini adalah hari raya kita.” (HR Nasa’i).


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

~`* Meraih Malam Lailatul Qadar *`~

Assalamu’alaiku m Warahmatullahi Wabarakatuh.


Malam Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh kemuliaan dan lebih baik dari seribu bulan. 
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ﺮﻬﺷ ﻒﻟﺃ ﻦﻣ ﺮﻴﺧ ﺭﺪﻘﻟﺍ ﺔﻠﻴﻟ “Lailatul qadr lebih baikdaripada 1000 bulan.” 
(QS. Al- Qadr (97) ayat 3)

Lalu bagaimana kita menjemput Malam Lailatul Qadar?, inilah beberapa cara yang bisa kita lakukan...

1. Meningkatkan ibadah, dengan shalat malam, berdzikir, shalat dluha, termasuk juga memperbanyak mengaji dan mentadabburi Al Qur’an.
 
“Barangsiapa yang shalat pada Malam Lailatul Qadar karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya. Dan barangsiapa yang berpuasa ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya”. (HR. Al-Bukhari no. 1768 dan Muslim no. 1268)

2. Memperbanyak doa
Malam Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh ampunan. Dari Aisyah radhiallahu anha, dia berkata:
"Wahai Rasulullah, apabila aku mengetahui Malam Lailatul
Qadar, maka apakah yang aku ucapkan padanya?” Beliau menjawab: “Berdoalah dengan: ALLAAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN KARIIMUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNII
(Artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Ampunan dan Maha Pemurah, Engkau senang memberikan ampunan, maka ampunilah aku).” (HR. At- Tirmizi no. 3435 dan dia berkata, “Ini adalah hadits hasan shahih.”)

3. Memperbanyak infaq dan sedekah
Sungguh begitu besar
keutamaan infaq dan sedekah, dan akan lebih berlipat ganda pahala bagi yang melaksanakannya pada 10 Ramadhan terakhir (untuk menjemput Malam Lailatul Qadar).
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

Aisyah
radhiallahu anha berkata,
“Rasulullah ber’itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan
Ramadhan, dan beliau bersabda, ‘Carilah malam Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.

Semoga kita semua dapat menjemput malam istimewa ini, dengan kejernihan hati dan kualitas ibadah yang kiat meningkat. Aamiin Ya Robbal Alamiin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

..Hari Jumat adalah hari yang mulia..


Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah Nabi

Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana seharusnya msenyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’ala. Berikut ini beberapa adab yang harus diperhatikan bagi setiap muslim yang ingin menghidupkan syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jumat.

1. Memperbanyak Sholawat Nabi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

2. Mandi Jumat

Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang balig berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim). Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi janabah biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi Jumat seperti mandi janabah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Menggunakan Minyak Wangi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid

Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)

5. Sholat Sunnah Ketika Menunggu Imam atau Khatib

Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)

6. Tidak Duduk dengan Memeluk Lutut Ketika Khatib Berkhotbah

“Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rasulullah melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat Jumat ketika imam sedang berkhotbah.” (Hasan. HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

7. Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat

Rasulullah bersabda yang artinya, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)

8. Membaca Surat Al Kahfi

Nabi bersabda yang artinya, “Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.” (HR. Imam Hakim dalam Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)

Demikianlah sekelumit etika yang seharusnya diperhatikan bagi setiap muslim yang hendak menghidupkan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di hari Jumat. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang senantiasa di atas sunnah Nabi-Nya dan selalu istiqomah di atas jalan-Nya.

Sumber : http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/adab-pada-hari-jumat-sesuai-sunnah-nabi.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Pentingnya Malam Nuzul Al-Qu’ran 17 Ramadhan 1434 H

Peringatan Malam Nuzulul Al Quran 17 Ramadhan 1434 H merupakan momentum penting khususnya umat Islam sedunia dalam memaknai pentingnya wahyu Al Quran yang turun pertama kalinya di bulan suci Ramadhan. Begitu yang tertulis dalam firman Allah SWT : surat Al-Qadr (1-5). Malam yang diyakini sebagai turunnya Al Quran melalui seorang Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW di gua Hira. Tempat yang dimanfaatkan oleh Nabi Muhammad mengkhusyukkan diri berdoa selama ini. Peristiwa bersejarah turunnya kitab Suci Al Quran telah dianggap dan dipercayai kebenarannya sebagai tuntunan hidup umat manusia. Kala itu Nabi Muhammad SAW berusia kurang lebih 40 tahun lebih setengah tahun dan 8 hari. Bisa dikatakan juga sekitar 13 tahun sebelum beliau memutuskan hijrah dari perjalanan kota Makkah sampai Madinah. Semua itu berlangsung persis 17 Ramadhan bersamaan tanggal 6-8-610 M.

Malam Nuzulul Al Quran 2013 17 Ramadhan 1434 H juga tidak terlepas dari pendapat kontroversial masa lalu.Seperti yang pernah dikisahkan ada diantara para sahabat Nabi yang berpendapat seputar turunnya Al Quran tersebut jatuh tanggal 23, 24 dan seterusnya.Namun balik lagi ditegaskan, bahwa memang tidak ada pernyataan resmi yang datang dari junjungan nabi Muhammad SAW mengenai kapan persis waktunya diturunkannya Al Quran tersebut. Sehingga semua perkataan dan pendapat yang sempat ditulis oleh ulama adalah murni hasil ijtihad dan hanya pendapat para sahabat Nabi Muhammad saja. Perkataan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyatakan ada sekitar 40 pendapat ulama mengenai Nuzul Qur’an turun.

Ada juga riwayat yang menceritakan bahwa Nabi Muhhammad SAW berkeinginan menyampaikan berita tentang kapan persisnya malam Nuzul Qur’an terjadi. Di tengah perjalanan beliau mendapati dua orang pengikutnya yang sedang bersitegang hebat, maka Nabi memutuskan tidak jadi menyampaikan hal gembira tersebut setelah melihat kejadian tersebut. Demikian halnya memberikan hikmah tersendiri, dengan tidak tersampaikan kabar berita itu oleh Nabi Muhammad, yakni mendorong para umatnya secara tidak langsung untuk senantiasa berikhtiar sungguh-sungguh mencari kapan tepatnya malam Nuzul Qur’an. Agar umat Islam terus bersemangat untuk mencari pahala dan anugerah mulianya malam tersebut. Sebaliknya timbul kekuatiran jika manusia telah mengetahui kepastian malam Nuzul Qur’an sejak dulu, kemungkinan malah menjadikan umat hanya tergantung pada hari itu saja untuk berdoa khusyuk kepada Allah, sementara pada kesempatan lainnya bisa meninggalkan kewajiban ibadahnya. Sikap ini begitu bertolak belakang dengan spirit rahmat bulan ramadhan Sebagai bulan yang melatih kekuatan,ketaatan serta keihlasan hati kita untuk beribadah selama satu bulan penuh.

Sekiranya ayat Al Quran manakah yang diturunkan pada malam hari kejadian itu adalah (QS. Al-Alaq: 1-5) : yaitu “bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah Menciptakan, Tuhan menciptakan manusia dari bentuk gumpalan darah. Ketahuilah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran sebuah kalam*, Dia mengajari kepada manusia apa yang seharusnya dilakukan ”. Secara tidak langsung berarti Allah akan mengajarkan umat manusia lewat media tulis dan baca. Sehingga Al Quran menjadi kitab hidayah pedoman ataupun petunjuk bagi seluruh alam raya. Jadi sekiranya terdapat penggambaran tentang hal-hal yang bertalian dengan sejarah, geografi, kedokteran, fisika dan lain sebagainya hanyalah berfungsi sebagai bukti dan penjelasan untuk mencapai kepada satu tujuan kemulian hidayah yang Allah maksud. Maka dari itu, terdapat beberapa syarat agar kita dapat menemukan hidayat yang dimaksud oleh Allah SWT dalam kandungan yang terdapat dalam nilai Al Quran itu sendiri.

Sejak saat itu Nabi Muhammad SAW resmi menjadi junjungan Rasul tercinta bagi umat manusia di muka bumi ini. Sehingga sepatutnya Malam Nuzul Al Quran 17 Ramadhan 1434 H ini bisa dimanfaatkan sebaik mungkin seluruh umat muslim dalam mengumandangkan kalam Illahi dengan memperbanyak baca ayat-ayat suci Al Quran. Begitu pentingnya arti malam Nuzul Al Quran 17 Ramadhan 1434 H dalam mempengaruhi ketaqwaan bersikap umat Islam menggapai makna Nuzul Qur’an. Semoga dengan lebih merujuk Al Qur’an sebagai panutan utama mendorong kualitas hidup menjadi lebih baik di masa mendatang.

Sejak saat itu Nabi Muhammad SAW resmi menjadi junjungan Rasul tercinta bagi umat manusia di muka bumi ini. Sehingga sepatutnya Malam Nuzul Al Quran 17 Ramadhan 1434 H ini bisa dimanfaatkan sebaik mungkin seluruh umat muslim dalam mengumandangkan kalam Illahi dengan memperbanyak baca ayat-ayat suci Al Quran. Begitu pentingnya arti malam Nuzul Al Quran 17 Ramadhan 1434 H dalam mempengaruhi ketaqwaan bersikap umat Islam menggapai makna Nuzul Qur’an. Semoga dengan lebih merujuk Al Qur’an sebagai panutan utama mendorong kualitas hidup menjadi lebih baik di masa mendatang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
 

I and A Million Dreams ツ Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Sponsored by Blogger Template Gallery